
Yakisugi Milo Naval: Pameran Solo Pertama Tampilkan Kayu Terbakar dan Ekspresi Personal
Yakisugi Milo Naval menjadi judul pameran solo pertama desainer furnitur asal Filipina yang kini menempuh langkah baru dalam praktik kreatifnya. Pameran yang menonjolkan teknik pembakaran kayu ini sedang dipamerkan di ruang kreatif Aphro di The Alley at Karrivin, Makati, dan terbuka hingga 22 Agustus.

Dalam pameran berjudul “Yakisugi,” Milo Naval melangkah keluar dari batas-batas desain fungsional untuk menampilkan karya campuran yang lebih dipandu oleh ekspresi pribadi. Ini merupakan kesempatan pertama baginya untuk memfokuskan karya tanpa harus selalu memikirkan aspek fungsional bagi klien.
Tentang Yakisugi Milo Naval
Pameran tersebut lahir dari kecintaan Milo terhadap kayu dan pencarian metode pengawetan yang lebih alami. Yakisugi sendiri merujuk pada teknik Jepang berabad-abad yang mempertahankan kayu dengan cara membakar permukaannya secara hati-hati, bukan menggunakan bahan kimia. Dalam konteks pameran ini, yakisugi menjadi bahasa visual utama yang dipadukan dengan bahan lain untuk menerjemahkan ide-idenya.
Milo mengatakan ia tertarik pada teknik itu bukan hanya karena keberlanjutan tetapi juga kualitas visualnya. Ia menekankan bahwa salah satu keuntungan yakisugi adalah mampu melestarikan kayu tanpa menggunakan bahan kimia: “Ini natural,” ujarnya, menegaskan hubungan antara praktik tradisional dan nilai estetika yang dihadirkannya.
Teknik, Bahan, dan Proses Kreatif
Selain kayu yang dibakar, pameran menampilkan kombinasi bahan seperti rotan, baja galvanis, dan kaca. Bahan-bahan ini dipilih untuk menangkap berbagai fenomena alam dan kondisi cuaca yang senantiasa berubah. Bentuk-bentuk geometris yang muncul memberi kontras terhadap tekstur kasar dan wujud alami material, sehingga memancing penonton untuk melihat ulang sifat elemen yang sering dianggap destruktif.
Kesempatan untuk membuat pameran ini hadir secara tak terduga. Pertemuan yang diatur oleh sahabat lama Milo, Luis Espiritu, mempertemukannya dengan Tina Fernandez, pendiri Aphro, yang kemudian mengundangnya untuk menyelenggarakan pameran di ruang kreatif galeri tersebut. Kurator Christina “Ling” Quisumbing Ramilo turut bergabung mengawal proyek ini, dan dalam waktu sekitar sebulan setengah pameran berhasil dirampungkan.
Baca juga: Ketika Uang Berkata ‘Tidak’, scholarships say keep going: Peluang Beasiswa untuk Pemuda India
Milo mengenang proses itu dengan ringkas: “Ketika sesuatu memang harus menyatu, mereka akan menyatu.” Kecepatan realisasi pameran menunjukkan intensitas dan intensi yang kuat dari tim pembuatnya, serta kemampuan Milo untuk mentransformasikan gagasan menjadi objek seni dalam waktu singkat.
Empat Unsur Alam sebagai Bahasa Visual
Konsep pameran berpusat pada empat unsur alam: bumi, air, udara, dan api. Milo mencoba menggeser cara pandang publik terhadap unsur-unsur tersebut yang seringkali dipandang sebagai ancaman. Lewat kayu yang dibakar, ia ingin menunjukkan dualitas api sebagai kekuatan yang sekaligus merusak dan melestarikan. Sementara itu, kaca dan baja galvanis merepresentasikan hujan, perubahan cuaca, dan berlalunya musim.
Lebih dari sekadar laporan visual, karya-karya itu mengajak penonton untuk mengamati dan merenungkan hubungan manusia dengan alam—bagaimana material sehari-hari dapat diolah menjadi wujud yang memancing refleksi. Milo berharap generasi muda, khususnya, dapat mengenal kembali dan menghargai metode tradisional seperti yakisugi.
Ekspresi Pribadi dan Kebebasan Artistik
Bagi Milo, pameran ini merupakan manifestasi kebebasan artistik yang berbeda dari praktik desain furniturnya. Dalam desain komersial, perhatian selalu tertuju pada klien dan fungsi. Di ruang pamer, Milo bebas menampilkan bahasa pribadi dan memperlihatkan sisi lain dari identitas kreatifnya. “Saya ingin menunjukkan lebih banyak tentang diri saya. Saya tidak ingin berhenti pada furnitur. Ini lebih merupakan ekspresi diri daripada pekerjaan saya yang biasa,” ujarnya.
Tina Fernandez menyatakan bahwa karya Milo cocok dengan karakter ruang Aphro karena “kekuatan tenangnya” yang mengundang pengunjung untuk melambat dan melihat. Proses transformasi bahan sehari-hari melalui api menurutnya menghasilkan karya yang kontemplatif dan menyentuh secara emosional.
Yakisugi menampilkan sisi berbeda Milo Naval tanpa melepaskan penghargaan pada bahan alami dan keahlian kerajinan yang telah membentuk kariernya. Pameran ini menjadi jembatan antara tradisi dan ekspresi kontemporer, sekaligus undangan bagi publik untuk menilai kembali hubungan mereka dengan unsur alam dan material sehari-hari.
