
Kenapa Warga China Enggan Punya Anak? Biaya Hidup Jadi Alasan Utama!
Kita semua tahu, China, negara dengan populasi terbanyak di dunia, kini justru sedang pusing tujuh keliling. Angka kelahirannya terus merosot tajam, membuat banyak pihak bertanya-tanya: ada apa gerangan? Ternyata, ada beberapa **alasan penduduk China tak mau melahirkan** yang sangat fundamental dan bikin geleng-geleng kepala.
Meskipun pemerintah sudah mencoba berbagai cara, mulai dari melonggarkan aturan hingga kebijakan yang agak nyeleneh, kenyataannya banyak pasangan muda di sana malah ogah punya anak. Yuk, kita bedah satu per satu penyebabnya!
Faktor Utama: Biaya Hidup yang Bikin Melongo!
Percaya atau tidak, salah satu **alasan penduduk China tak mau melahirkan** yang paling dominan adalah beban finansial yang luar biasa besar. Membesarkan anak di sana itu mahal sekali, lho!
Rp 1,2 Miliar untuk Satu Anak? Fantastis!
- Laporan dari YuWa Population Research Institute di Beijing tahun 2024 menunjukkan fakta mengejutkan: China adalah salah satu negara termahal untuk membesarkan anak.
- Bayangkan saja, rata-rata biaya yang dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak sampai usia 17 tahun bisa mencapai 75.700 dolar AS atau setara dengan Rp 1,2 miliar! Angka ini tentu bukan jumlah yang sedikit.
- Biaya pendidikan yang selangit dan persaingan akademik yang super ketat jadi beban utama. Belum lagi krisis properti dan kondisi ekonomi yang lagi lesu, bikin keluarga muda makin galau mikirin masa depan finansial.
Kebijakan Pemerintah: Antara Niat Baik dan Salah Sasaran
Pemerintah China tentu tidak diam. Berbagai strategi demografi pemerintah sudah dicoba, tapi kadang justru menuai kontroversi.
Pajak Kondom: Solusi atau Masalah Baru?
- Salah satu kebijakan terbaru yang bikin heboh adalah pengenaan pajak penjualan alat kontrasepsi sebesar 13 persen, yang mulai berlaku Januari 2026.
- Tujuannya jelas, sih, buat mendorong angka kelahiran. Tapi banyak masyarakat justru menganggap ini “upaya berlebihan dan tidak tepat sasaran”. Bagaimana tidak? Masalah utamanya ada di ekonomi dan kesejahteraan, bukan ketersediaan kontrasepsi.
Dilema Perempuan: Karier vs. Keluarga yang Tak Ada Habisnya
Selain faktor ekonomi dan kebijakan, ada lagi **alasan penduduk China tak mau melahirkan** yang cukup signifikan, terutama bagi para perempuan.
Tekanan untuk Memilih: Antara Kantor dan Rumah
- Para perempuan di China menghadapi tantangan berat untuk menyeimbangkan karier dan peran sebagai ibu. Tekanan sosial dan profesional seringkali membuat mereka khawatir kehamilan dan pengasuhan anak akan menghambat perkembangan karier.
- Di tengah tantangan ekonomi global, kesempatan kerja seringkali tidak mudah didapat, apalagi dipertahankan setelah cuti melahirkan. Ini membuat banyak perempuan berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk hamil.
China di Ambang Krisis Demografi
Semua faktor di atas bermuara pada satu konsekuensi serius: populasi China terus menyusut. Data resmi menunjukkan penurunan selama tiga tahun berturut-turut.
Pada 2024, jumlah kelahiran hanya tercatat 9,54 juta bayi. Angka ini hanya sekitar setengah dari jumlah kelahiran satu dekade lalu, saat pembatasan anak mulai dilonggarkan. Sungguh ironis, dari negara dengan populasi terbesar, China kini bergulat dengan krisis generasi muda.
Tanpa perbaikan ekonomi yang nyata dan dukungan komprehensif bagi keluarga muda, rasanya **alasan penduduk China tak mau melahirkan** akan tetap sama, bahkan mungkin makin kuat. Pemerintah punya pekerjaan rumah yang besar untuk menemukan solusi yang benar-benar menyentuh akar masalah.



